Agribisnis Kakao Seluk Beluknya di Indonesia

Agribisnis diartikan sebagai sebagai suatu bidang usaha yang bertutat di dunia pertanian, namun ternyata hal ini memiliki makna yang lebih luas. Agribisnis juga mencakup hal lain seperti distribusi alat pertanian dan juga pengolahan hasil produksi pertanian menjadi suatu produk jadi. Hal ini menyebabkan agribisnis juga berpengaruh dalam perkembangan ekonomi suatu negara.

Khususnya bagi negara Indonesia yang memiliki kekayaan hasil alam melimpah, hasil dari penjualan bidang pertanian seharusnya cukup tinggi. Namun, pada kenyataannya negara ini justru belum mampu memaksimalkan kekayaan yang dimiliki hingga harus membeli dari negara lain. Salah satu bahan yang dikembangkan produksinya di Indonesia yaitu perkebunan kakao dengan aneka jenis subsistem.

Menurut hasil penelitian, hasil produksi kakao di Indonesia berada di bawah rata-rata negara lain yang hanya mencapai 660 kg/ha. Walaupun sebenarnya lahan pengembangan kakao meningkat di setiap tahunnya, namun hasil produksinya tak kunjung meningkat sama seperti dengan produksi tomat. Hal ini menimbulkan adanya citra buruk mengenai kualitas kakao hasil produksi dari Indonesia di mata dunia.

Mengenai hal tersebut, pada kesempatan kali ini akan dibahas mengenai agribisnis kakao yang meliputi aspek produksi, pemasaran dan kelembagaan.

  1. Aspek Produksi

Salah satu hal yang memengaruhi produktivitas dari kakao diantaranya yaitu adanya hama yang hidup di sekitar pohon kakao. Hama yang berkembang tiap tahunnya berbeda, seperti contohnya pada tahun 2002 hama yang merajai yaitu PBK (Penggerek Buah Kakao). Tak hanya itu saja, munculnya penyakit VSD atau Vascular Streak Dieback juga memperburuk keadaan.

Sedangkan pada tahun berikutnya, hama yang muncul yaitu busuk buah yang mengurangi hasil produksi mencapai 50 persen. Kondisi cuaca dan iklim yang kerap berubah pun semakin memperburuk keadaan ditambah dengan adanya hama kanker dan ulat batang.  Hal yang paling merugikan dari semua itu sesungguhnya yaitu adanya anomali atau perubahan kondisi alam.

Hal kedua yang memengaruhi aspek produksi yaitu pupuk yang diberikan petani ke pohon kakao yang tumbuh. Pemberian pupuk dianjurkan dilakukan setelah kakao berumur dua bulan yang kemudian pemupukan dilakukan secara rutin dan bertahap. Pemupukan ini selain berguna untuk menjaga kesuburan tanah juga untuk membasmi hama yang ada dan menyerang kakao.

 

  1. Aspek Pemasaran

Pelaku yang memasarkan kakao dibedakan ke beberapa jenis yaitu bakul dan pengumpul serta pedagang antar pulau. Bakul ialah seorang pedagang dengan tingkatan paling rendah karena hanya memasarkan kakao secara sempit misalnya ke pasar terdekat. Para bakul juga memasarkan kakao ke para pedagang pengumpul yang ada di sekitar tempat tinggal mereka.

Pedagang pengumpul ialah pedagang tingkat dua dengan cara mengambil pasokan kakao dari petani langsung atau bakul. Lalu mereka memasarkan kakao ke para pedagang antar pulau yang kemudian akan dipasarkan lebih luas lagi. Pedagang antar pulau adalah pelaku oemasaran yang paling tinggi karena cakupan mereka sangat luas dengan truk sebagai alat transpotnya.

 

  1. Aspek Kelembagaan

Pada aspek ketiga  yang dimaksud disini yaitu sejenis koperasi atau lembaga lain yang memberi jasa simpan pinjam bagi para petani. Koperasi yang ada di sekitar petani kakao memberikan pinjaman bagi mereka yang membutuhkan dana untuk mengembangkan usaha kakao yang dilakukan. Koperasi dapat memberikan pinjaman dengan bunga dan juga tanpa bunga.

Dengan adanya bantuan dari koperasi yang masuk ke dalam aspek kelembagaan ini diharapkan semoga para petani kakao lebih sejahtera. Aparat negara  mengharapkan para petani dan segala aspek yang mendukung dapat meningkatkan hasil produksi dan kualitas kakao di Indonesia. Kerja sama antar segala aspek sudah harus ditingkatkan untuk memperbaiki citra pertanian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *